Hallo Sobat AgroRaya

agrorayatimur.group@gmail.com

+62 821-4103-6949

Kabupaten Gresik, Jawa Timur

MACAM MACAM HAMA TANAMAN HOLTI

MACA-MACAM HAMA-HAMA TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA

  • LATAR BELAKANG

 

Kendala utama budidaya tanaman hortikultura adalah kurang tersedianya benih bermutu, kesuburan tanah yang semakin menurun, dan ancaman serangan hama dan penyakit. Kehilangan hasil panen tanaman hortikultura yang diakibatkan serangan hama berkisar antara 46 sampai 100% atau gagal panen. Karena ketakutan petani terhadap serangan hama dan penyakit, petani hortikultura sangat menggantungkan diri pada penggunaan insektisida dan fungisida. Penyemprotan dengan pestisida di sayuran dan beberapa jenis buah-buahan sangat intensif, seperti kubis dapat mencapai 20 kali dalam satu musim. Pengeluaran untuk pestisida pada tanaman kubis rata-rata 30% dari biaya produksi, sedangkan di kentang dapat mencapai 40%, tomat 50% dan cabai sampai 51%. Tentu saja keadaan ini tidak efisien dan sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.

Keadaan petani hortikultura Indonesia berbeda dengan petani hortikultura di luar negeri yang usahanya sudah padat teknologi dan padat modal. Petani horti di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3 menurut pengusahaan lahannya yaitu: 1) petani horti di pekarangan, 2) petani horti komersial di dataran rendah, dan 3) petani horti komersial di dataran tinggi. Petani horti pekarangan umumnya menanam berbagai jenis sayuran dan buah-buahan di pekarangan untuk kepentingan konsumsi keluarga. Sedangkan petani horti komersial memang mengusahakan untuk memperoleh produksi dan keuntungan. Namun ketiga kelompok mempunyai ciri yang sama yaitu luas lahan yang terbatas dan modal yang pas-pasan. Kita belum mempunyai semacam usaha “perkebunan” sayuran atau perkebunan buah-buahan seperti di luar negeri. Oleh karena itu umumnya petani horti di Indonesia belum banyak menguasai teknologi budidaya tanaman dan perlindungan tanaman yang memadai, sehingga mereka sangat tergantung pada kebiasaan petani di sekitarnya. Dengan demikian usaha hortikultura belum efisien dan ongkos produksi tinggi.

Sejak tahun 1990 sampai 1998 Pemerintah melaksanakan pelatihan PHT untuk lebih dari 50.000 petani hortikultura di beberapa propinsi yang meliputi petani kubis, kentang, bawang merah, dan cabai merah. Dari evaluasi terhadap penerapan PHT oleh petani pada tanaman hortikultura terlihat bahwa untuk tanaman kubis dan kentang petani dapat mengurangi penggunaan pestisida sampai 80%, peningkatan produksi dan kualitas produk sehingga sangat menguntungkan. PHT tanaman cabe dan bawang merah jauh lebih baik hasilnya dibandingkan kebiasaan petani namun belum sebaik petani kubis dan kentang.

Dari hasil-hasil sementara tersebut dapat disimpulkan bahwa satu-satunya cara memperbaiki produksi dan kualitas produksi tanaman hortikultura adalah menerapkan dan mengembangkan teknologi PHT yang sesuai dengan jenis tanaman, lokasi lahan, dan kondisi sosial ekonomi petani. Untuk dapat mengembangkan teknologi PHT yang sesuai diperlukan banyak kegiatan penelitian dan pengkajian.

  • JENIS-JENIS HAMA HORTIKULTURA DAN CARA PENGENDALIANNYA

 

Setiap jenis tanaman hortikultura memiliki jenis hama yang berbeda, dan pengendalian hama menjadi tantangan tersendiri karena banyak hama yang cepat berkembang biak, beradaptasi, serta sering kali menyerang secara tiba-tiba dan sporadis. Oleh karena itu, pemahaman tentang jenis-jenis hama, gejala serangan, dan strategi pengendalian sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan budidaya hortikultura yang berkelanjutan.

Salah satu jenis hama penting yang menyerang buah-buahan adalah lalat buah (Batrocera spp) yang seringkali menjadi pembatas produksi dan ekspor buah-buahan di Indonesia seperti nangka dan jambu. Namun dengan penggunaan zat atraktan seperti metil eugenol dan tanaman selasih, pengendalian lalat buah dapat mengurangi kerugian petani buah-buahan oleh lalat buah.

  • KELOMPOK SAYURAN

Kelompok Sayuran meliputi tanaman-tanaman sayuran dataran tinggi (KUBIS, KENTANG, TOMAT) dan sayuran dataran rendah (CABAI, dan BAWANG MERAH.

  • KUBIS
  1. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon

Gejala serangan:

Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong, sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. Serangan berat terjadi di awal musim kemarau.

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang.
  • Tanam serempak
  • Pengolahan tanah yang baik.
  • Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman selanjutnya mematikannya.
  • Pemasangan umpan beracun.

  • Ulat Daun (Plutella xylostella

Gejala serangan:

Tanaman yang diserang adalah tanaman muda. Seringkali juga merusak tanaman kubis yang sedang membentuk krop. Larva makan permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan lapisan epidermis bagian atas. Setelah jaringan daun lapisan epidermis pecah sehingga terjadi lubang-lubang pada daun. Kerusakan berat mengakibatkan tanaman kubis hanya tinggal tulang daun saja

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
  • Tanam serempak
  • Mengumpulkan larva di sekitar tanaman dan mematikannya


  • Ulat Krop (Crocidolomia binotalis

Gejala serangan:

Larva muda bergerombol di permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan bercak putih pada daun yang dimakan. Larva instar ketiga sampai kelima memencar dan menyerang pucuk tanaman kubis sehingga menghancurkan titik tumbuh. Akibatnya tanaman mati atau batang kubis membentuk cabang dan beberapa crop yang kecil-kecil.

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
  • Tanam serempak
  • Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman selanjutnya mematikannya.

  • KENTANG
  • Ulat Tanah (Agrotis ipsilon

Gejala serangan:

Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong, sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. Serangan berat terjadi di awal musim kemarau.

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang.
  • Tanam serempak
  • Pengolahan tanah yang baik.
  • Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman selanjutnya mematikannya.
  • Pemasangan umpan beracun.
  • Penggerek Umbi (Pthorimaea operculella

Gejala serangan:

Daun yang terserang terlihat warna merah tua dan adanya jalinan seperti benang yang membungkus ulat kecil berwarna kelabu. Kadang-kadang daun kentang menggulung yang disebabkan karena larva telah merusak permukaan daun sebelah atas, kemudian bersembunyi dalam gulungan daun tersebut. Gejala serangan pada umbi dapat dilihat dengan adanya kelompok kotoran berwarna coklat tua pada kulit umbi. Apabila umbi dibelah, akan kelihatan “alur-alur” yang dibuat ulat sewaktu memakan umbi. Kerusakan berat pada pertanaman kentang sering terjadi pada musim kemarau. Di dalam gudang penyimpanan, OPT tersebut merusak bibit kentang yang disimpan selama 3-5 bulan sebelum tanam. Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
  • Tanam serempak
  • Pengolahan tanah yang baik
  • Kutu Daun Persik (Myzus persicae

Gejala serangan:

Kerusakan secara langsung akibat serangan kutu daun persik sebenarnya tidak terlalu merugikan. Kutu daun persik mengisap cairan daun, sehingga menyebabkan daun berkerut/keriting, tumbuhnya kerdil, kekuningan, daun- daunnya terpuntir, menggulung dan kemudian layu dan mati. Gejala yang lebih penting adalah gejala karena kerusakan secara tidak langsung, yaitu serangan penyakit virus yang ditularkan oleh kutu ini. Kutu daun persik merupakan vektor penyakit tanaman kentang antara lain PVA, PVY, PVM, dan PLRV.

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
  • Tanam serempak
  • Penyemprotan dengan insektisida selektif dan efektif
  • Lalat Pengorok Daun (Lyriomyza huidobrensis

Gejala serangan:

Lalat pengorok memakan daun dengan cara masuk ke dalam jaringan daun. Akibat serangan hama ini terdapat alur-alur pada daun yang dapat mempengaruhi fotosintesis.

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
  • Tanam serempak

  • Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis

Gejala serangan:

Pertanaman kentang berumur 70-80 hst yang terserang nematoda tampak daun-daun klorosis (menguning).

Pengelolaan:

  • Pengolahan tanah
  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang


  • CABAI
  • Ulat Tanah (Agrotis ipsilon

Gejala serangan:

Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong, sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. Larva dewasa kadang-kadang membawa potongan-potongan tanaman ke tempat persembunyiannya.

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
  • Tanam serempak
  • Pengolahan tanah yang baik
  • Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman selanjutnya mematikannya.
  • Pemasangan umpan beracun
  • Pemanfaatan musuh alami seperti Metarrhizium sp.

 

  1. Kutu daun persik (Myzus persicae

Gejala serangan:

Serangan berat pada tanaman cabai muda (umur < 3 minggu) bila infestasinya tinggi daun akan berkerut keriting, tanaman akan tumbuh kerdil, layu dan kemudian mati.

  Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
  • Tanam serempak

 

  1. Trips (Thrip palmi

Gejala serangan:

Stadium Thrips yang sangat merugikan adalah stadium nimfa dan imago. Thrips menyerang tanaman dengan jalan menggaruk permukaan daun dan bunga, selanjutnya mengisap cairan sel tanaman. Gejala serangan pada daun akan terlihat bercak-bercak klorosis berwarna putih keperakan pada permukaan bagian bawah daun yang akan menyebabkan daun berkerut dan terpuntir. Bila serangan berat permukaan daun akan berkerut atau sedikit menggulung yang di dalamnya benyak ditemukan Thrips.

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
  • Tanam serempak

  • Kutu Daun Kapas (Aphis gossypii

Gejala Serangan:

Serangan berat dapat terjadi apabila infestasi terjadi pada tanaman muda (< 3 minggu), dengan gejala daun berkerut keriting, tanaman akan tumbuh kerdil, layu dan kemudian mati.

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman
  • Pengamatan secara teratur
  • Mengumpulkan kutu kemudian dimatikan

  • Lalat buah (Batrocera dorsalis

Gejala serangan:

Gejala serangan lalat buah pada buah cabai ditandai dengan titik hitam pada pangkal buah, kemudian buah membusuk dan jatuh ke tanah. Hal ini disebabkan belatung memakan bagian dalam dan daging buah sehingga terjadi saluran-saluran di dalam buah. Buah yang terserang menjadi busuk, selanjutnya jatuh ke tanah.

Pengelolaan:

  • Tanam serempak
  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
  • Mengumpulkan buah busuk yang rontok kemudian dibakar
  • Menggunakan perangkap beracun
  • Penyemprotan insektisida yang efektif dan selektif apabila ditemukan serangan sedang.

  • Ulat grayak (Spodoptera litura

Gejala serangan:

Larva makan dengan cara menyayat permukaan dau. Gejala serangan yang ditimbulkan adalah bercak-bercak putih transparan pada daun, karena bagian daging daun dimakan sedangkan bagian epidermis atas ditinggalkan. Ulat dewasa memakan seluruh bagian daun dengan meninggalkan bagian tulang daunnya. Pada serangan berat tanaman akan gundu

Pengelolaan:

  • Penanaman tanaman bukan inang
  • Mengumpulkan larva di sore/malam kemudian dimatikan
  • Penyemprotan dengan pestisida yang selektif

  • Nematoda puru (Meloidogyne sp)

Gejala serangan:

Tanda kerusakan yang tampak pada bagian tanaman di atas permukaan tanah adalah tampak pertumbuhan yang kerdil, daun klorosis, pada cuaca panas daun-daun cepat layu dibanding tumbuhan sehat, daun-daun banyak yang gugur, tumbuhan tampak gundul, kadang-kadang tinggal daun pucuk. Tanda kerusakan pada bagian tanaman di dalam tanah diantaranya dekat ujung akar tampak kerusakan mekanis, berupa bercak berwarna coklat hitam, terutama pada infeksi populasi yang tinggi, terdapat kecenderungan pembentukan akar- akar cabang lebih sedikit daripada tumbuhan normal. Tampak adanya puru pada akar-akar utama.

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inangnya
  • Di daerah endemik dilakukan perlakuan tanah dengan nematisida yang efektif jika dijumpai serangan sedang.

  •  BAWANG MERAH
  • Ulat bawang (Spodoptera exigua

Gejala serangan:

Bagian tanaman yang diserang adalah daunnya, baik pada tanaman muda atau pada tanaman tua. Larva muda melubangi bagian ujung daun kemudian masuk dan memakan daging daun bagian dalam, sedangkan epidermis bagian luar ditinggalkan. Akibat serangan tersebut pada daun terlihat bercak-bercak putih menerawang tembus cahaya dan akhirnya terkulai dan mengering. Pada serangan berat seluruh bagian daun dimakannya.

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
  • Tanam serempak
  • Pemusnahan kelompok telur di ujung daun

  • Trips (Thrip tabaci

Gejala Serangan:

bagian daging daun dimakan sedangkan bagian epidermis atas ditinggalkan. Ulat dewasa memakan seluruh bagian daun dengan meninggalkan bagian tulang daunnya. Pada serangan berat tanaman akan gundul.

Pengelolaan:

  • Penanaman tanaman bukan inang
  • Mengumpulkan larva di sore/malam kemudian dimatikan
  • Penyemprotan dengan pestisida yang selektif

  • Nematoda puru (Meloidogyne sp)

Gejala serangan:

Tanda kerusakan yang tampak pada bagian tanaman di atas permukaan tanah adalah tampak pertumbuhan yang kerdil, daun klorosis, pada cuaca panas daun-daun cepat layu dibanding tumbuhan sehat, daun-daun banyak yang gugur, tumbuhan tampak gundul, kadang-kadang tinggal daun pucuk. Tanda kerusakan pada bagian tanaman di dalam tanah diantaranya dekat ujung akar tampak kerusakan mekanis, berupa bercak berwarna coklat hitam, terutama pada infeksi populasi yang tinggi, terdapat kecenderungan pembentukan akar- akar cabang lebih sedikit daripada tumbuhan normal. Tampak adanya puru pada akar-akar utama.

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
  • Di daerah endemik dilakukan perlakuan tanah dengan nematisida yang efektif jika dijumpai serangan sedang.

  •  BAWANG MERAH
  • Ulat bawang (Spodoptera exigua

Gejala serangan:

Bagian tanaman yang diserang adalah daunnya, baik pada tanaman muda atau pada tanaman tua. Larva muda melubangi bagian ujung daun kemudian masuk dan memakan daging daun bagian dalam, sedangkan epidermis bagian luar ditinggalkan. Akibat serangan tersebut pada daun terlihat bercak-bercak putih menerawang tembus cahaya dan akhirnya terkulai dan mengering. Pada serangan berat seluruh bagian daun dimakannya.

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
  • Tanam serempak
  • Pemusnahan kelompok telur di ujung daun.

  • Trips (Thrip tabaci

Gejala Serangan:

Stadium nimfa dan imago merusak tanaman dengan cara menggaruk atau meraut jaringan daun dan mengisap cairan sel utamanya pada daun yang masih muda. Gejala serangan yang terlihat adalah daun bernoda putih mengkilat seperti perak, kemudian menjadi kecoklat-coklatan dengan bintik hitam. Pada serangan berat seluruh areal terlihat putih dan akhirnya tanaman akan mati. Serangan berat biasanya terjadi pada suhu rata-rata di atas normal disertai dengan hujan rintik-rintik dan kelembaban udara di atas 70%. Pada suhu tinggi atau dingin Thrips akan musnah

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman
  • Tanam serentak
  • Waktu tanam pertengahan April, awal Mei atau September
  • Penyemprotan insektisida efektif bila ditemukan tingkat serangan sedang

  •  TOMAT
  • Ulat Tanah (Agrotis ipsilon

Gejala serangan:

Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong, sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. Larva dewasa kadang-kadang membawa potongan-potongan tanaman ke tempat persembunyiannya.

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
  • Tanam serempak
  • Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman selanjutnya mematikannya.
  • Pengolahan tanah yang baik

  • Ulat Buah (Helicoverpa armigera

Gejala serangan:

Ulat ini menyerang buah tomat dengan cara masuk ke dalam buah dan memakannya dari dalam. Buah akan tampak berlubang sehingga menurunkan kualitas.

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
  • Tanam serempak
  • Mengumpulkan ulat kemudian mematikannya
  • Pemberian insektisida butiran melalui tanah pada saat menjelang berbunga
  • Penyemprotan insektisida yang selektif

 

  1. Kutu Kebul (Bemisia tabaci

Gejala serangan

Kutu menyerang permukaan daun bagian bawah. Kutu tersebut akan mengisap cairan daun sehingga daun akan berkerut yang akan mempengaruhi fotosintesis.

Pengelolaan:

  • Pergiliran tanaman
  • Tanam serempak
  • Mengumpulkan ulat kemudian mematikannya


  • KELOMPOK BUAH-BUAHAN
  •  JERUK
  • Kutu loncat jeruk (Diaphorina citri

Gejala serangan:

Kerusakan karena aktivitas kutu loncat adalah daun jeruk menjadi berkerut-kerut, menggulung atau kering dan pertumbuhannya menjadi terhambat serta tidak sempurna. Selain daun muda, kutu ini juga mengisap cairan sel pada tangkai daun, tunas-tunas muda atau jaringan tanaman. Gejala lainnya adalah hasil sekresi atau kotorannya berupa benang berwarna putih dan bentuknya menyerupai spiral.

Pengelolaan:

  • Memanfaatkan keberadaan musuh alami antara lain predator Curinus coreluos, Coccinella repanda, jamur Metarhizium sp.
  • Pengendalian secara kimiawi hendaknya dilakukan saat tanaman menjelang dan ketika bertunas.
  • Kutu Daun (Toxoptera citricidus

Gejala serangan:

Kerusakan karena hama ini tampak pada bagian tanaman muda seperti daun dan tunas. Daun yang terserang akan berkerut dan keriting serta pertumbuhannya terhambat. Pada bagian tanaman di sekitar aktivitas kutu daun tersebut terlihat adanya kapang hitam yang tumbuh pada sekresi.

Pengelolaan:

  • Di alam populasi kutu daun dikendalikan oleh musuh alami.
  • Secara kultur teknis dengan menggunakan mulsa jerami di bedengan pembibitan jeruk agar dapat menghambat perkembangan populasi kutu.
  • Kutu Perisai (Lepidosaphes sp)

Gejala serangan:

Bagian tanaman jeruk yang terserang adalah daun, buah dan tangkai. Serangan kutu tersebut menyebabkan daun berwarna kuning, terdapat bercak- bercak klorotis dan seringkali membuat daun menjadi gugur. Serangan yang lebih berat akan mengakibatkan ranting dan cabang menjadi kering. Jika serangan terjadi di sekeliling batang, akan menyebabkan buah gugur. Serangan pada buah mengakibatkan buah tampak kotor.

Pengelolaan:

    • Musuh alami sangat menentukan perkembangan populasi kutu sisik. Oleh karena itu keberadaannya perlu diperhatikan.
  • Pengendalian secara kimiawi hendaknya menggunakan insektisida yang bersifat selektif.
  • Kutu dompolan (Planococcus citri

Gejala serangan: 

Kutu menyerang tangkai buah dan meninggalkan bekas berwarna kuning kemudian kering sehingga banyak buah yang gugur. Pada bagian tanaman yang terserang tampak dipenuhi kutu-kutu putih seperti kapas. 

Pengelolaan: 

  • Memanfaatkan musuh alami dengan cara menghindarkan penggunaan insektisida yang berlebihan 
  • Mengatur kepadatan tajuk tanaman agar agar tidak terlalu padat dan saling menaungi
  • Mencegah datangnya semut yang sering memindahkan kutu

  •  MANGGA 
  • Procontariana matteina

Gejala serangan: 

Daun yang terserang hama ini ditandai dengan adanya bisul-bisul kecil pada permukaan dan bawah daun. Ulat akan meninggalkan bekas lubang pada saat ulat keluar meninggalkan jaringan daun. Dalam satu daun tampak terdapat banyak sekali bintil-bintil kecil yang menyebabkan terganggunya proses fotosistesis sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. 

Pengelolaan: 

  • Sanitasi lingkungan merupakan salah satu alternatif terbaik untuk mengendalikan hama ini.
  • Penggerek cabang mangga (Rhytidodera simulans

Gejala serangan: 

Pada bagian cabang atau ranting yang terserang terdapat lubang dan alur gerek berwarna hitam. Apabila tertiup angin, cabang akan mudah patah, daunnya. tampak layu, lama-lama kering dan mati. Lubang-lubang bekas gerekan dapat menyebabkan infeksi oleh serangan organisme lain.

 

 Pengelolaan: 

  • Pengendalian mekanik dengan cara memangkas cabang dan ranting terserang. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan cara injeksi pada batang tanaman dan dianjurkan saat tanaman tidak berbunga atau berbuah.
  •  MANGGA 
  • Erionata thrax 

Gejala serangan: 

Daun pisang yang terserang hama ini akan terlihat robek. Hal ini disebabkan hama menggulung daun dari tepi ke arah tengah. 

Pengelolaan:

  • Secara fisik mekanik dengan cara pengambilan telur kemudian mematikannya 

Mengumpulkan bagian daun yang sudah tergulung dan memusnahkannya 

  • Hama Uret 

Gejala serangan: 

Hama ini menyerang pisang bagian batang sampai ke umbi batang bagian bawah (bonggol) dan menyebabkan umbi berlubang. 

Pengelolaan:

  • Dengan Seed treatment
  • Kumbang Penggerek Batang (Cosmopolites sordidus

Gejala serangan: 

Tanaman yang terserang hama ini akan menunjukkan pertumbuhan yang kerdil, daun berkerut. Pada umumnya hama ini tumbuh pada tanaman pisang yang busuk. 

Pengelolaan:

  • Pengendalian dengan sanitasi kebun. Memotong tanaman yang tercemar sampai ke bonggol bawah

 

Facebook
LinkedIn
X
WhatsApp
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya